Postnut Clarity of Life: Menemukan Makna Kesuksesan Sejati
Seberapa Dalam Makna Kesuksesan Buatku?
Kalau dulu ditanya soal sukses, mungkin jawabanku standar banget: punya rumah sendiri, mobil yang nyaman, rekening tebal, anak-anak bisa sekolah tinggi, dan kalau bisa… liburan ke luar negeri minimal setahun sekali.
Itu kan versi "pakem" sukses ala brosur motivator atau iklan bank.
Tapi sekarang, di usia 55 tahun, aku merasa definisi sukses itu jauh lebih dalam, lebih lembut, dan nggak bisa lagi sekadar dihitung pakai angka saldo rekening atau jumlah sertifikat investasi.
Tapi sekarang, di usia 55 tahun, aku merasa definisi sukses itu jauh lebih dalam, lebih lembut, dan nggak bisa lagi sekadar dihitung pakai angka saldo rekening atau jumlah sertifikat investasi.
Buatku, sukses hari ini adalah… bertahan.
Bertahan melewati masa-masa ketika hidup rasanya kayak ditarik ke segala arah.
Bertahan waktu ada badai finansial, kesehatan goyah, atau hubungan dengan orang-orang terdekat diuji.
Kadang, bangun di pagi hari dengan hati yang masih berfungsi normal aja udah sukses banget.
Sukses Bukan Cuma Tentang Materi
Aku nggak bilang uang itu nggak penting—jelas penting. Tapi sukses yang paling aku rasakan justru datang dari hal-hal yang kelihatannya sederhana:
- Sukses menyelesaikan kewajiban rumah tangga tanpa drama berarti.
- Sukses bikin masakan sederhana tapi anak-anak bilang, “Enak, Bu.”
- Sukses jaga diri sendiri biar nggak gampang sakit.
- Sukses ngasih dampak kecil tapi nyata buat orang lain, misalnya dari tulisan di blog, sharing pengalaman hidup, atau sekadar jadi telinga yang mau mendengarkan.
Di titik ini aku sadar,
sukses bukan sekadar “aku dapat apa” tapi lebih ke “apa yang bisa aku bagi.”
Sukses Memberi Impact
Aku seneng banget kalau ada yang bilang, “Tulisannya Mbak Tanti bikin aku mikir ulang, lho.” Itu rasanya lebih bikin hangat dibanding hadiah barang mahal. Karena impact itu, walau kecil, bisa menular ke banyak orang.
Sama halnya dengan menjaga lingkungan: memilah sampah, recycle, atau sekadar ngajak tetangga buat hemat plastik. Itu bentuk kesuksesan juga—karena berarti kita nggak cuma hidup buat diri sendiri.
Postnut Clarity dan Hidup yang Lebih Jernih
Nah, ini agak random tapi relevan juga. Pernah dengar istilah postnut clarity? Anak-anak Gen Z suka pakai itu buat menggambarkan momen setelah "puncak," di mana pikiran tiba-tiba jadi jernih, realistis, dan apa adanya.
Dalam hidup, aku rasa kita juga sering mengalami momen postnut clarity versi non-romantis. Setelah kejar-kejaran sama ambisi, kerja keras tanpa henti, atau mimpi-mimpi tinggi… akhirnya ada satu titik hening. Kita duduk, tarik napas, lalu sadar:
“Oh, ternyata sukses itu bukan melulu soal puncak pencapaian. Sukses itu tentang menemukan ketenangan setelah ribut dengan ekspektasi diri sendiri.”
Kesuksesan Sehari-hari
Jadi buatku, sukses hari ini bisa sesederhana:
- Punya waktu rebahan tanpa rasa bersalah.
- Bisa bilang “nggak apa-apa” sama kesalahan diri sendiri.
- Selesai menulis satu artikel, meski pendek.
- Bisa bercanda sama anak-anak tanpa bawa beban pikiran.
Itu semua nggak ada ukurannya, tapi rasanya lebih bernilai daripada piala atau bonus akhir tahun.
At the end....
Makna kesuksesan memang berubah seiring usia. Kalau dulu sukses itu soal "seberapa tinggi aku naik," sekarang sukses itu soal "seberapa dalam aku bisa menikmati hidup dan memberi makna buat orang lain."Dan di usia 55 ini, aku merasa sukses paling besar adalah masih bisa tersenyum, masih bisa jatuh-bangun tanpa putus asa, dan masih punya semangat untuk terus belajar—meski kadang belajar dari Gen Z yang ngajarin istilah-istilah absurd macam postnut clarity.
hyaaa.. wakwaaaw... 😅
Komentar
Posting Komentar