Curhat di Tengah Slide: Belajar Canva, Belajar Hidup
Alkisah, di tengah whatsapp grup, ada seorang blogger senior yang bertanya kepada member tentang fitur Canva yang sekarang sudah sangat kekinian, sudah sangat dinamis. Percakapan dan diskusi berkembang hangat hingga akhirnya diputuskan, kami akan belajar bareng tentang mengulik Canva tersebut.
Alhamdulillah aku dipercaya untuk sharing dasar-dasar Canva ke teman-teman. Tema workshop-nya santai aja: “Bikin Microblog Cantik Pakai Canva.” Kupikir, palingan ya cuma ngomongin font, warna, dan tata letak yang aesthetic. Tapi ternyata, sesi itu berubah jadi... group therapy session ! 😅
Kok bisa?
Begini. Di tengah-tengah aku jelasin cara bikin layout yang enak dilihat dan nggak bikin mata pedih, salah satu teman nyeletuk,
“Mbak, aku tuh pengen bikin konten, tapi ngerasa kayak... hidup aja belum bener, masa mau ngajarin orang?”
Wah. Slide berhenti. Mouse aku lepas. Hatiku nyangkut.
Dan dari situ, pelan-pelan, satu per satu mulai buka suara. Ada yang lagi burn out kerja, ada yang mis-komunikasi mulu ama belahan jiwa, ada yang ditinggal kabur klien pas udah setengah jalan, dan bahkan ada yang ditipu sehingga seluruh aset harus direlakan berpisah hiks hiks... Canva jadi alasan kumpul, tapi ternyata... semua lagi butuh pelukan.
Jawabanku? Bukan dengan sok kuat. Tapi dengan ngaku: "Iya, aku capek. Iya, aku kecewa."
Zaman sekarang tuh, kita terlalu sering disuruh “semangat ya!” atau “pasti bisa kok!” Tapi nggak banyak yang ngasih ruang buat bilang:
1. Mengelola Emosi: Duduk Bareng Luka
Aku belajar bahwa emosi itu kayak tamu. Dia dateng, duduk sebentar, terus pergi. Tapi kita sering banget malah ngusir dia sebelum duduk, kan?
Waktu aku lagi di titik paling nyesek—proyek gagal, rekening tipis, dan anak-anak kena flu estafet—aku pengen banget marah ke semesta. Tapi aku belajar, marah boleh, asal jangan lupa ngobrol sama Tuhan.
Doaku berubah, dari yang dulu:
Itu bukan pasrah. Tapi latihan.
Latihan percaya di saat semua logika bilang "udah, nyerah aja."
2. Mindset: Bukan Nasib, Tapi Pola
Kadang, pas roda hidup di bawah, kita mikirnya: “Yaa emang udah nasib kali ya, aku mah gini-gini aja.”
Padahal, itu bukan nasib. Itu pola pikir yang terbentuk dari kecil. Kayak waktu kita kecil sering denger:
“Uang tuh susah dicari!”
“Kita mah bukan orang kaya, jangan mimpi aneh-aneh.”
Eh sekarang pas gede, heran kenapa susah mikir positif soal duit dan rezeki?
Makanya, aku mulai ganti dialog dalam kepala. Dari yang nyalahin keadaan, jadi negosiasi sama diri sendiri.
“Oke, ini gagal. Tapi aku belajar apa dari sini?”
Kok bisa?
Begini. Di tengah-tengah aku jelasin cara bikin layout yang enak dilihat dan nggak bikin mata pedih, salah satu teman nyeletuk,
“Mbak, aku tuh pengen bikin konten, tapi ngerasa kayak... hidup aja belum bener, masa mau ngajarin orang?”
Wah. Slide berhenti. Mouse aku lepas. Hatiku nyangkut.
Dan dari situ, pelan-pelan, satu per satu mulai buka suara. Ada yang lagi burn out kerja, ada yang mis-komunikasi mulu ama belahan jiwa, ada yang ditinggal kabur klien pas udah setengah jalan, dan bahkan ada yang ditipu sehingga seluruh aset harus direlakan berpisah hiks hiks... Canva jadi alasan kumpul, tapi ternyata... semua lagi butuh pelukan.
Aku jadi kepikiran: gimana sih cara kita tetap waras waktu lagi di bawah? Waktu dan hidup rasanya kayak TikTok yang stuck buffering terus padahal sinyal full bar?
Jawabanku? Bukan dengan sok kuat. Tapi dengan ngaku: "Iya, aku capek. Iya, aku kecewa."
Zaman sekarang tuh, kita terlalu sering disuruh “semangat ya!” atau “pasti bisa kok!” Tapi nggak banyak yang ngasih ruang buat bilang:
“Aku nggak baik-baik aja hari ini. Dan itu nggak apa-apa.”Diskusi kami pun akhirnya menjadi sangat hangat, penuh tawa, sesekali saling menepuk pundak masing-masing. Kami belajar kembali, gak cuman tentang teori Nganva tapi juga tentang hidup yang dinamis melesat seperti Canva dan fiturnya yang makin beraneka ragam!
1. Mengelola Emosi: Duduk Bareng Luka
Aku belajar bahwa emosi itu kayak tamu. Dia dateng, duduk sebentar, terus pergi. Tapi kita sering banget malah ngusir dia sebelum duduk, kan?
Waktu aku lagi di titik paling nyesek—proyek gagal, rekening tipis, dan anak-anak kena flu estafet—aku pengen banget marah ke semesta. Tapi aku belajar, marah boleh, asal jangan lupa ngobrol sama Tuhan.
Doaku berubah, dari yang dulu:
“Kenapa harus aku?”
jadi
“Apa yang sedang Engkau tunjukkan lewat ini?”
Latihan percaya di saat semua logika bilang "udah, nyerah aja."
2. Mindset: Bukan Nasib, Tapi Pola
Kadang, pas roda hidup di bawah, kita mikirnya: “Yaa emang udah nasib kali ya, aku mah gini-gini aja.”
Padahal, itu bukan nasib. Itu pola pikir yang terbentuk dari kecil. Kayak waktu kita kecil sering denger:
“Uang tuh susah dicari!”
“Kita mah bukan orang kaya, jangan mimpi aneh-aneh.”
Eh sekarang pas gede, heran kenapa susah mikir positif soal duit dan rezeki?
Makanya, aku mulai ganti dialog dalam kepala. Dari yang nyalahin keadaan, jadi negosiasi sama diri sendiri.
“Oke, ini gagal. Tapi aku belajar apa dari sini?”
“Kalau hari ini berat, mungkin aku cuma perlu istirahat, bukan berhenti.”
3. Humor: Vitamin Harian Si Budak Korporat
Karena nggak semua bisa diselesaikan dengan nangis, kadang kita butuh... dark jokes bahahahhaa....
Waktu sharing Canva itu, aku sempat bilang:
“Tenang, hidup kalian nggak serumit ngerapiin elemen di Canva. Tapi tetep butuh ‘align center’ biar nggak miring terus.”
Mereka ketawa. Tapi abis itu diem lagi.
3. Humor: Vitamin Harian Si Budak Korporat
Karena nggak semua bisa diselesaikan dengan nangis, kadang kita butuh... dark jokes bahahahhaa....
Waktu sharing Canva itu, aku sempat bilang:
“Tenang, hidup kalian nggak serumit ngerapiin elemen di Canva. Tapi tetep butuh ‘align center’ biar nggak miring terus.”
Mereka ketawa. Tapi abis itu diem lagi.
Soalnya... iya juga, ya?
4. Berprasangka Baik: Ilmu Langit yang Nggak Semua Orang Punya
Kata siapa sih, Neng Tanti itu selalu ceriyah manjyah? Tydaaackkkk temans. Big no.
Satu hal yang kupelajari selama 55 tahun ini adalah:
Iman yang paling rumit itu bukan soal ritual. Tapi soal tetap percaya, di saat semua yang kamu rencanakan gagal!
Berprasangka baik sama Allah itu kadang butuh nelen ego. Butuh diem, pas kamu pengen teriak.
Berprasangka baik sama Allah itu kadang butuh nelen ego. Butuh diem, pas kamu pengen teriak.
Aku jadi ingat dan pengen malu. Ini juga ngetiknya sambil pura-puira ngga liat... *eh gimana...
Aku pernah loh jadi "anak bandel" yang -tentu saja- everything based on what I want. Dan ketika aku nyerah, capek gitu ya ama "kebandelanku" sendiri, Tuhan menjawab dengan becanda : semua yang kukerjakan seolah gagal, bangkrut atau bahkan ditipu temen (iyaaa temen yang katanya nyalon anggota legislatif ituuuh!)
Abis itu aku tentu saja banyak diem di rumah. Ketika itu, pelampiasanku malah : bebersih rumah, ngecat mural di dinding ruang tamu (!), ngaji, sholat tepat waktu dan ... masak puding buah!
Bagus? Kalo dari kacamata ibu-ibu shalihah on track tentu saja bagus.
Kalo inget itu, baru sadar, bahwa ternyata Tuhan sedang "menjambak jilbabku" keluar dari tempat sampah, soalnya udah diingetin dengan banyak peristiwa - bisikan - tapi akunya gak sadar-sadar juga!
Tapi percayalah, dari semua badai yang pernah kulewati—yang waktu itu kupikir akan bikin aku tumbang—nyatanya sekarang malah jadi bahan konten, bahan sharing, dan jadi energi buat bantu orang lain.
5. Akhirnya Semua Kembali ke Diri Sendiri
Tapi percayalah, dari semua badai yang pernah kulewati—yang waktu itu kupikir akan bikin aku tumbang—nyatanya sekarang malah jadi bahan konten, bahan sharing, dan jadi energi buat bantu orang lain.
5. Akhirnya Semua Kembali ke Diri Sendiri
Setelah sesi curhat Canva itu, kami nggak cuma dapat ilmu desain. Tapi dapat pelajaran: hidup itu juga tentang merapikan isi kepala, bukan cuma merapikan font.
Kadang, kamu cuma butuh duduk, buka Canva, dan tulis satu kata besar:
“Aku cukup.”
Cukup kuat, cukup sabar, cukup layak.
Dan kamu cukup keren, karena tetap bertahan sampai hari ini.
Kadang juga, kamu butuh komunitas yang vibes-nya dah kek sisterhood, yang ngga usahlah malu untuk jujur. Gak ada itu yang namanya jaim-jaim club. Gak ada. Soalnya : "Kita tau kok kecilan elo dulu kek mana.." jiahahahhaa...
Ayo, yuk, pelan-pelan, kita isi hidup kita dengan layout baru.
Yang lebih rapi, lebih jujur, dan tetap ada ruang buat tumpah.
Kamu nggak sendirian, kok.
Kalau mau mulai desain hidup dari awal, aku temenin.
Ayo, yuk, pelan-pelan, kita isi hidup kita dengan layout baru.
Yang lebih rapi, lebih jujur, dan tetap ada ruang buat tumpah.
Kamu nggak sendirian, kok.
Kalau mau mulai desain hidup dari awal, aku temenin.
Tips dikit.
Salah satu tips sederhana tapi powerful dari Madam Nike (seleb tiktok yang nieche-nya motivasi) adalah : afirmasi menggunakan medium air putih dalam gelas.
Caranya? Isi segelas air putih sebelum tidur, lalu ucapkan pelan namun yakin:
"Allah memberikan dan menyelesaikan seluruh masalahku dengan sangat indah dan dengan cara yang sangat ajaib."
Minum setengah gelasnya, dan biarkan sisanya diminum keesokan harinya saat bangun tidur.
Air putih itu jadi semacam pengantar energi baik dari afirmasi kita kepada tubuh—mengingatkan bahwa solusi dari langit bisa datang kapan saja, asal kita percaya dan berserah penuh.
Kalau kamu suka artikel kayak gini, bisa mampir ke blog aku juga ya di tantiamelia.com — tempat di mana curhat dan Canva bersatu. 💛
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
BalasHapusmaaciiih Steeef
HapusTadi awalnya kirain akan bahas aper-canva-an ternyata dep b anget artikelnya tentang kehidupan. Kadang kita butuh mindset positif juga buat melangkahmaju dan bertahan ya mbak. Aku kalaulagi marah sukanya beberes rumah :-D MAu cobain ah affrimasi mediuam ari putihnya
BalasHapusTadinya kupikir para blogger yang "haus ilmu" akan duduk manis depan laptop masing masing... ngulik Canva bikin insta story bikin animasi... ternyataa... 50 persen untuk diskusi dan saling menguatkan...
HapusYuni Bint Saniro: Iyah. Pada akhirnya, semua akan kembali ke diri sendiri. Apapun masalahnya, hanya kita yang mampu menyelesaikan.
BalasHapusKalau lelah ya istirahat dulu. Kalau nggak mampu, ada Tuhan tempat berserah.
Masya Allah iya mbak. Hanya Allah tempat berserah..
HapusDari obrolan kemarin baru sadar, saya belum memaafkan dan meminta maaf, terlalu sibuk memikirkan masalah dan menyalahkan orang lain hikshiks
BalasHapusMasya Allah tabarakallah
Hapusinsya Allah ke depan dirimu yang cantik, pintar, akan semakin kuaaattt dan berlimpah rejeki aamiin
Wah senengnyaaa.....ngumpul untuk belajar dan akhirnya saling curhat
BalasHapusDan saya percaya banget dengan cakra manggilingan
Terkadang hidup kita sedang dibawah roda, kali lainnya kita di atas
Itulah hidup
Dengan memahami hal tersebut, kita akan menjadi kuat
Di mana ada kesempatan curhat, curhatlah. Hehe... Eh tapi pilih-pilih juga ding mau curhat dengan siapa. Karena ada yang katanya siap sedia dengerin curhat, tapi eh ujungnya malah adu nasib atau besoknya malah kayak nggak mau kenal lagi sama kita. Iya, ini pengalaman.
BalasHapusMba Tanti inspirasional sekali tulisannya.
BalasHapusAku sempet baca tuh pas mau ada pertemuan pingin ikut join tp domisiliku kejauhan dan ada situasi tak memungkinkan jg
Seru banget pertemuannya bukan sekedar sharing soal canva tp jadi ruang sesi utk saling berbagi rasa
Yaaah sayang yaaa ... kita lama loh gak ketemuan Siti, insya Allah next kita ketemu yaa
HapusCiamik Mak, jadi pengingat diri dari artikel ini.
BalasHapusTerlebih bahasan soal perlunya jokes, yang kalo daku pikirkan iya juga. Perlulah refreshing otak dari kepenatan duniawi hihi
Itu yang jilbab kuning Bunda Yati kan ya? MasyaAllah. Saya masih aja terpukau kalau lihat semangat belajar Bunda Yati. Selalu konsisten semangatnya.
BalasHapusMbak, apakah yang berbaju kuning itu Bunda Yati? Ya Allah, bacaan saya buyar separuh karena melihat beliau yang tetap bersemangat.
BalasHapusBtw, saya ngrasa tersindir sedikit, nih. minggu-minggu ini saya beberapa kali menulis, "semangat, Mbak, pasti bisa!" pada teman yang memberi kabar ada halangan kecil. Ya, meskipun di grup itu memang kami sepakat selalu berkabar jika ada potensi kendala produktivitas kami.
Aih senengnyaaa kumpul2 smabil belajar. Sayangnya hari itu udah janji sama orang lain :D
BalasHapusWah nyentil aku banget nih yang kadang ngrasa stuck gini2 aja haha, apalagi belakangan tu aku diinvite ke wag alumni dan yaaa kadang suka ngliat rumput tetangga lebih ijo2 =))
nah itu mbak, kadang kita tu ngarsa gagal ya, kyk gak ke mana2, gak gerak, tapi justru yang bisa liat kita bertumbuh org lain. Mungkin kita cuma perlu supoort system yang meyakinkan kalau kita tu juga ada kemajuan lhooo. Selain tentu aja dari diri sendiri tuh kudu berusaha stay waras haha :p
Aiih...mantulitaa syekaliii, kaa Tantiii..
BalasHapusTapi aku inget banget dari drakor atau apa yaa.. bahwa ketika kita uda bisa menertawakan luka dan kepedihan kita, itu berarti kita sudah berdamai dengan luka tersebut.
Sembuh siih mungkin belum yaa.. tapi uda di fase menerima.
Aku juga sepemikiran ka Tanti...berasaa medsos cuma pemcitraan kalo akunya sensiri masi om-off dalam mengamalkan ilmu.
Bagus memang jika kita seorang blogger dan content creator terus punya Pola Pikir Bertumbuh (PPB), sehingga walau kita sudah berumur tapi masih terus belajar. Termasuk belajar Canva penting sih, apalagi di era digital saat ini, semua jadi bisa gampang didesain di canva tanpa harus punya skill desainer. Btw, keren nih bisa kumpul2 belajar canva bareng temen2 komunitas :) lanjutkan berbagai dan sharing ilmunya.
BalasHapus