Pentingkah Punya Banyak Circle ?

Pentingnya Punya Banyak Circle (Biar Hidup Gak Garing Kek Kerupuk Kelelep Kuah)

        Kadang aku suka mikir, hidup tanpa circle itu ibarat makan indomie tanpa             bumbu—tetep kenyang sih, tapi hambar, flat, dan bikin ngerasa, “kok gini             doang?” 😅

PPBN Community - Gelora Bung Karno 
Hari Kebaya Nasional


    Di usia 55 ini, aku belajar bahwa punya banyak circle itu bukan berarti harus jadi Miss Popularity ala FTV, tapi lebih kayak punya beberapa kos-kosan hati

Jadi kalau di satu circle lagi sumpek atau banyak drama, aku bisa check out dulu dan pindah sementara ke circle lain yang lebih adem, ketawa-ketawa, atau sekadar ngemil bareng.

Kenapa Circle Itu Penting?

MUNGIL
Alumni FTT - ITI angkatan 88

PPBN Community - BENHIL - Car Free Day Sudirman Thamrin

Grup Keluarga Besar Satiri - Husnah Slipi
  1. Penyegar suasana.

    Kalau circle blogger lagi rame bahas SEO dan DA/PA kayak rumus kimia, aku bisa kabur sebentar ke circle ilustrator Indonesia. Di sana biasanya obrolannya lebih nyeni: warna pastel, brush digital, atau sekadar curhat “tablet wacom gue error mulu brooo.”

  2. Sudut pandang makin luas.

    Misalnya aku lagi sama circle penulis, biasanya obrolannya dalem-dalem banget sampe mikir, “hidup ini sebenernya siapa yang menulis?” 😆 Tapi begitu masuk ke PPBN (Perempuan Berkebaya Nusantara), langsung ganti channel: dari filsafat jadi debat kain batik vs kebaya encim. Hasilnya? Otak aku gak karatan karena dapat asupan insight dari berbagai arah.

    Blogger Tangsel Plus
    usianya paling variabel dari usia 78 tahun - 20 tahun!

  3. Tempat healing instan.

    Circle alumni SMA 46 misalnya—itu isinya kalau ketemu cuma ngakak doang, bahas masa lalu yang kadang bikin malu tapi bikin sehat jiwa. Sementara circle alumni ITI agak beda: lebih banyak bahas kerjaan, keluarga, sampai gosip-gosip alumni yang suka nongol di grup WA kayak bintang tamu.

  4. Support system nyata.

    Ada circle tetangga Kelapa Dua dan Islamik yang jadi tempat nyari pinjeman cabe rawit atau saling nitip jemuran kalo hujan. Ada juga circle ibu-ibu senam kampung dan pengajian di Islamik yang selalu bikin hati tenang. Di satu sisi, badan keringetan sehat, di sisi lain hati ikut adem karena banyak doa.

Circle Gak Harus Ramai, Yang Penting Berkualitas

AFC - Training 
Jus OOKI - Modernland Tangerang

Punya banyak circle itu gak berarti harus banyak orang. Aku malah lebih milih circle kecil tapi isinya orang-orang yang tulus. Sedikit, tapi bikin hidup kaya pengalaman.

Geng Kancil 

Karena circle itu kayak playlist Spotify: kalau lagunya itu-itu aja, lama-lama bosan. Tapi kalau playlistnya campur, dari K-pop, dangdut koplo, sampe lagu nostalgia 90-an… hidup rasanya lebih seru.

Hidup Jangan Satu Dimensi

Klub Jantung Sehat - Kelapa Dua Tangerang

Circle juga ngajarin aku bahwa kita gak bisa hidup dalam satu dimensi aja. Ketemu Gen Z di circle tertentu misalnya, bikin aku belajar bahasa alien baru: slay, vibes, healing, bahkan postnut clarity (plis, jangan disuruh jelasin 😏). Dari situ aku sadar, dunia ini nggak sesempit timeline WhatsApp keluarga.

So? Circle Adalah Investasi Rasa

Blogger ASUS - lead by Katerine S

Kalau dulu aku mikir investasi itu cuma emas, deposito, atau saham, sekarang aku ngerti circle juga investasi—investasi rasa. Ada circle buat serius, ada circle buat ketawa ngakak, ada circle buat nangis bareng. Semua penting, semua bikin hidup lebih kaya.

Jadi buatku, sukses di umur 55 bukan cuma soal saldo aman atau anak-anak lulus kuliah, tapi juga punya banyak circle yang bisa jadi tempat singgah. Karena hidup terlalu singkat kalau cuma nongkrong di satu meja aja. 😉


Komentar

Postingan Populer