Hati-hati! Rezeki Tidak Adil Bisa Jadi Bumerang untuk Hidupmu!
Pernah enggak sih, kamu bertanya pada diri sendiri, "Kok rezeki ini datangnya gampang banget, ya?" atau "Apakah aku sudah pantas menerima semua kemudahan ini?" Jawaban dari pertanyaan itu seringkali membuat kita merenung lebih dalam.
Rezeki itu memang unik. Kadang datang dalam bentuk uang, kadang berupa kemudahan, kadang juga kepercayaan dari orang lain.
Tapi, di balik semua itu, ada sebuah tanggung jawab besar yang sering kita lupakan: bersikap adil terhadap setiap rezeki yang kita terima. Perenungan ini yang akhirnya membuatku ingin berbagi cerita denganmu hari ini, tentang bagaimana kita bisa memaknai dan menghargai rezeki tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.
Hari ini aku mau cerita tentang sebuah perenungan yang sering banget mampir di pikiranku, terutama setelah aku melewati berbagai fase, baik itu dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.
Hari ini aku mau cerita tentang sebuah perenungan yang sering banget mampir di pikiranku, terutama setelah aku melewati berbagai fase, baik itu dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.
Jujur, kadang aku merasa hidup ini tuh seperti sungai yang mengalir, di mana rezeki datang dari berbagai arah. Ada yang berbentuk materi, ada juga yang berupa kemudahan atau kesempatan.
Tapi, pernah enggak sih kamu merasa, "Kok rezeki yang ini datangnya gampang banget, ya?" atau "Fee-nya lumayan, tapi project-nya terasa kurang maksimal?"
Nah, di situlah hati kecil kita diuji. Aku yakin, banyak dari kita yang pernah ada di posisi ini, terutama teman-teman yang juga berprofesi di dunia digital, entah itu sebagai content creator, blogger, atau freelancer. Kita sering banget dapat tawaran kerja sama dengan brand yang kita suka, fee yang bikin senyum, tapi di tengah jalan, ada aja hal yang bikin kita merasa kurang sreg. Mungkin, KPI (Key Performance Indicator) yang diminta enggak tercapai sepenuhnya.
Ketika Rezeki Berbentuk Pekerjaan dan Integritas Dipertaruhkan
Bayangin deh, ada satu project yang datang. Semuanya terasa lancar. Briefing jelas, fee fantastis, dan kita langsung eksekusi kontennya. Saat laporannya dibuat, ternyata angka engagement atau reach-nya kurang memuaskan, atau enggak sesuai dengan target yang sudah ditentukan di awal.
Nah, di situlah hati kecil kita diuji. Aku yakin, banyak dari kita yang pernah ada di posisi ini, terutama teman-teman yang juga berprofesi di dunia digital, entah itu sebagai content creator, blogger, atau freelancer. Kita sering banget dapat tawaran kerja sama dengan brand yang kita suka, fee yang bikin senyum, tapi di tengah jalan, ada aja hal yang bikin kita merasa kurang sreg. Mungkin, KPI (Key Performance Indicator) yang diminta enggak tercapai sepenuhnya.
Ketika Rezeki Berbentuk Pekerjaan dan Integritas Dipertaruhkan
Bayangin deh, ada satu project yang datang. Semuanya terasa lancar. Briefing jelas, fee fantastis, dan kita langsung eksekusi kontennya. Saat laporannya dibuat, ternyata angka engagement atau reach-nya kurang memuaskan, atau enggak sesuai dengan target yang sudah ditentukan di awal.
Pihak agency atau brand mungkin santai-santai aja, mereka bilang, "Oh, enggak apa-apa kok, Mbak/Mas, namanya juga campaign kan, ada pasang surutnya."
Rasanya lega, ya? Tanggung jawab kita secara formal sudah selesai. Uang sudah masuk, project sudah selesai. Tapi, di sisi lain, ada rasa mengganjal di hati. Sebuah suara kecil berbisik, "Kamu sudah dapat banyak, lho. Rasanya enggak adil kalau cuma segini effort-nya."
Aku percaya, di sinilah letak keadilan yang sesungguhnya.
Rasanya lega, ya? Tanggung jawab kita secara formal sudah selesai. Uang sudah masuk, project sudah selesai. Tapi, di sisi lain, ada rasa mengganjal di hati. Sebuah suara kecil berbisik, "Kamu sudah dapat banyak, lho. Rasanya enggak adil kalau cuma segini effort-nya."
Aku percaya, di sinilah letak keadilan yang sesungguhnya.
Keadilan bukan cuma tentang memenuhi perjanjian di atas kertas, tapi juga tentang keadilan terhadap rezeki yang kita terima.
Fee yang kita terima itu kan hasil dari kepercayaan mereka, dan kepercayaan itu harganya jauh lebih mahal dari angka di rekening.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Meskipun laporan sudah ditutup dan agency enggak menuntut apa-apa, kita bisa mengambil langkah ekstra. Misalnya, coba share lagi postingan itu di Insta Story dengan kalimat yang lebih personal. Tulis caption tambahan yang mengajak followers untuk berinteraksi lebih dalam. Atau, kalau memungkinkan, bikin konten lain yang berhubungan, meski enggak dibayar. Intinya, kita berusaha menambal kekurangan itu dengan effort lain.
Tindakan ini mungkin enggak masuk ke dalam laporan KPI resmi. Mungkin agency pun enggak akan pernah tahu. Tapi, hati kita tahu. Dan rezeki itu sendiri tahu. Ini bukan tentang mencari muka atau pamer integritas, tapi tentang menjaga hubungan baik dengan diri sendiri dan dengan rezeki yang datang. Ini adalah cara kita bilang terima kasih atas kepercayaan yang diberikan.
Keadilan Rezeki di Kehidupan Sehari-hari
Prinsip ini enggak cuma berlaku di dunia ngonten. Aku sering mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pernah enggak kamu merasa hidupmu sedang dipermudah? Urusan lancar, kesehatan baik, keluarga harmonis, semuanya terasa on track. Sementara di sekeliling kita, ada saja orang yang sedang berjuang keras.
Ada teman yang tiba-tiba curhat tentang kesulitan finansialnya. Ada tetangga yang sedang sakit dan butuh bantuan kecil. Atau mungkin, ada orang asing yang kebingungan mencari alamat. Saat itulah, kita yang sedang dalam kondisi "kelebihan rezeki" dalam bentuk kemudahan, punya kesempatan untuk berbuat adil.
Sama seperti kasus project yang KPI-nya enggak terpenuhi, kita harus menyadari bahwa rezeki yang kita terima itu bukan hanya untuk diri sendiri. Keadilan rezeki mengharuskan kita untuk berbagi. Enggak perlu menunggu kita kaya raya atau punya banyak waktu luang. Mulai dari hal kecil, itu sudah lebih dari cukup.
Contoh paling sederhana, saat teman butuh teman bicara, luangkan waktumu untuk mendengarkan. Saat tetangga butuh bantuan membawakan barang, tawarkan bantuanmu. Bahkan, senyum tulus atau sapaan hangat kepada orang yang kamu temui bisa menjadi bentuk keadilan rezeki yang paling sederhana dan berharga.
Menghargai dan Memaknai Rezeki
Kenapa sih kita harus seribet ini? Kenapa enggak dinikmati saja rezeki yang datang?
Jawabannya ada di kata "adil."
Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Meskipun laporan sudah ditutup dan agency enggak menuntut apa-apa, kita bisa mengambil langkah ekstra. Misalnya, coba share lagi postingan itu di Insta Story dengan kalimat yang lebih personal. Tulis caption tambahan yang mengajak followers untuk berinteraksi lebih dalam. Atau, kalau memungkinkan, bikin konten lain yang berhubungan, meski enggak dibayar. Intinya, kita berusaha menambal kekurangan itu dengan effort lain.
Tindakan ini mungkin enggak masuk ke dalam laporan KPI resmi. Mungkin agency pun enggak akan pernah tahu. Tapi, hati kita tahu. Dan rezeki itu sendiri tahu. Ini bukan tentang mencari muka atau pamer integritas, tapi tentang menjaga hubungan baik dengan diri sendiri dan dengan rezeki yang datang. Ini adalah cara kita bilang terima kasih atas kepercayaan yang diberikan.
Keadilan Rezeki di Kehidupan Sehari-hari
Prinsip ini enggak cuma berlaku di dunia ngonten. Aku sering mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pernah enggak kamu merasa hidupmu sedang dipermudah? Urusan lancar, kesehatan baik, keluarga harmonis, semuanya terasa on track. Sementara di sekeliling kita, ada saja orang yang sedang berjuang keras.
Ada teman yang tiba-tiba curhat tentang kesulitan finansialnya. Ada tetangga yang sedang sakit dan butuh bantuan kecil. Atau mungkin, ada orang asing yang kebingungan mencari alamat. Saat itulah, kita yang sedang dalam kondisi "kelebihan rezeki" dalam bentuk kemudahan, punya kesempatan untuk berbuat adil.
Sama seperti kasus project yang KPI-nya enggak terpenuhi, kita harus menyadari bahwa rezeki yang kita terima itu bukan hanya untuk diri sendiri. Keadilan rezeki mengharuskan kita untuk berbagi. Enggak perlu menunggu kita kaya raya atau punya banyak waktu luang. Mulai dari hal kecil, itu sudah lebih dari cukup.
Contoh paling sederhana, saat teman butuh teman bicara, luangkan waktumu untuk mendengarkan. Saat tetangga butuh bantuan membawakan barang, tawarkan bantuanmu. Bahkan, senyum tulus atau sapaan hangat kepada orang yang kamu temui bisa menjadi bentuk keadilan rezeki yang paling sederhana dan berharga.
Menghargai dan Memaknai Rezeki
Kenapa sih kita harus seribet ini? Kenapa enggak dinikmati saja rezeki yang datang?
Jawabannya ada di kata "adil."
Keadilan itu bukan cuma hak, tapi juga kewajiban. Ketika kita menerima rezeki, ada kewajiban untuk memanfaatkannya dengan baik, dan itu termasuk membagikannya. Rezeki itu, menurutku, ibarat air yang mengalir. Kalau kita biarkan menggenang dan hanya kita nikmati sendiri, lama-lama akan keruh dan kotor. Tapi, kalau kita biarkan mengalir dan membasahi tanah-tanah di sekitarnya, air itu akan terus bersih dan membawa kesuburan.
Intinya, bersikap adil saat menerima rezeki adalah tentang memaknai dan menghargai. Kita menghargai setiap kesempatan, setiap kemudahan, dan setiap materi yang datang. Kita memaknainya sebagai titipan yang harus kita kelola dengan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.
Jadi, mulai sekarang, coba deh, setiap kali kita menerima rezeki dalam bentuk apa pun, tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang bisa aku lakukan untuk bersikap adil dengan rezeki ini?" Aku yakin, jawaban itu akan menuntun kita pada tindakan-tindakan kecil yang bisa membuat perbedaan besar, tidak hanya untuk orang lain, tapi juga untuk kedamaian hati kita sendiri.
Mari kita sama-sama menjadi penerima rezeki yang adil dan pemaaf. Selamat merenung!
Intinya, bersikap adil saat menerima rezeki adalah tentang memaknai dan menghargai. Kita menghargai setiap kesempatan, setiap kemudahan, dan setiap materi yang datang. Kita memaknainya sebagai titipan yang harus kita kelola dengan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.
Jadi, mulai sekarang, coba deh, setiap kali kita menerima rezeki dalam bentuk apa pun, tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang bisa aku lakukan untuk bersikap adil dengan rezeki ini?" Aku yakin, jawaban itu akan menuntun kita pada tindakan-tindakan kecil yang bisa membuat perbedaan besar, tidak hanya untuk orang lain, tapi juga untuk kedamaian hati kita sendiri.
Mari kita sama-sama menjadi penerima rezeki yang adil dan pemaaf. Selamat merenung!
Waaah kasus kerjasama yang engagement-nya ngga sesuai harapan itu sering sekali terjadi di dunia nyata, hehe.
BalasHapusPernah dapat klien yang membiarkan saja tapi pernah juga dapat klien yang mengharuskan target ER tercapai.
Dan bener, ada rasa bersalah ketika hak sudah diterima tapi kewajiban ngga sesuai dengan besarnya hak.
Kek ngerasa makan gaji buta (meski ngga buta2 amat).
Terimakasih sharingnya, loh, mbak. Beneran merenung nih jadinya..
Bagaimana membujuk sang pemilik rejeki supaya aku bisa pantas menerima rezeki besar dariNya... :)
AKu pernah mbaaak ada di posisi : gw sepertinya HARUS kasih effort lebih deh saking si klien baeeek banget!
HapusBener juga ya. Apakah selama ini rezeki yang aku dapat udah cukup adil untuk aku pergunakan lagi dengan semestinya? soal rezeki ini emang unik. Kadang di saat kepepet, eh ada bantuan yang datang dari arah tak terduga. Bantuannya juga gak selalu dalam bentuk materi, tapi sekadar back up dari kesusahan pun rasanya udah bahagia banget.
BalasHapusLalu kadang ada juga masa-masa rezeki banyak, tapi pengeluaran jg kok mendadak banyak. Kalau kata temenku, "ya bagus, berarti rezekinya itu emang datang saat sebelum dibutuhkan" hehe ya bener juga sih.
bener juga ya mas!
Hapuskalo pas ada kok ya paaassss ada beberapa kebutuhan "aneh" yang mendadak muncul. Semoga kita semua dimudahkan aamiiin
Berasa kesentil bacanya...hm,,
BalasHapusIya ya Meskipun mungkin awalnya terlihat menguntungkan, rezeki yang diperoleh secara tidak adil dapat menimbulkan masalah di kemudian hari, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
aku menyentil diriku sendiri loh ini....
HapusDapat reminder lagi nih dari Mak Tanti.
BalasHapusIyaya ketika kita menerima rejeki memang sebaiknya memang ingat² lagi, bahwa di sisi lain ada bagian yang berhak menerimanya, sehingga perlunya saling berbagi.
iya mbak Fenni, kadang kayak reminder : eh ada rejeki orang yang nyangkut ga di sini
Hapus"Rezeki itu, menurutku, ibarat air yang mengalir. Kalau kita biarkan menggenang dan hanya kita nikmati sendiri, lama-lama akan keruh dan kotor. Tapi, kalau kita biarkan mengalir dan membasahi tanah-tanah di sekitarnya, air itu akan terus bersih dan membawa kesuburan." Aku sukaaa banget dengan rangkaian kalimat ini. MashaAllah maknanya dalem banget. Yang pasti, air yang mengalir tentunya bisa memberi manfaat bagi apa pun yang berada di sekitarnya, yang dilewatinya, dan yang menikmatinya.
BalasHapusSejatinya kita itu -si manusia fana ini- cuman "ketitipan" ya An,
Hapussuwun loh .. aku malah jadi scroll ke tulisan gw sendiri, apa iya gw nulis kek gitu qiqiiiqii
Sering banget nih saya
BalasHapusFee lumayan, jadi ya segera saya promosiin lewat iklan supaya viewnya bagus (kalo kebetulan blog) atau engagementnya tinggi (kalo Instagram)
Walau klien gak minta
Toh kalo klien senang, dampak positifnya untuk kita juga
Minimal view blog jadi tambah banyak ^^
Aaaaq! I know youuuuu!
HapusKonsep rezeki ini memang terkadang nggak bisa diduga ya, saya merasa terkadang mendapatkan kemudahan dalam bentuk pekerjaan atau bahkan rezeki di dalam bentuk yang lain. Tak melulu soal materi, bisa jadi diberikan keluarga yang hangat, kemudahan , kesehatan, anak yang sehat, lingkungan yang baik juga jadi rezeki tersendiri
BalasHapus