Lompatan Realita: Ketika Aku Memilih Takdirku Sendiri
Beberapa waktu lalu, aku menonton sebuah video dari Kintari—tentang konsep lompatan realita atau istilah kerennya quantum leap. Awalnya kupikir ini semacam teori ilmiah yang rumit, tapi ternyata… eh, malah bikin aku terdiam lama. Kayak ngaca ke hidup sendiri.
Lompatan realita ini bukan cuma perubahan kecil, tapi perubahan yang besar, cepat, dan mengubah hidup dari dalam ke luar. Kayak kamu yang dulunya hidup di dunia A, lalu dalam waktu singkat pindah ke dunia B yang sangat berbeda. Bukan sihir, tapi kesadaran.
Kintari cerita tentang masa SMP dan SMA-nya yang penuh luka—dibully, nilai jeblok, ngerasa nggak percaya diri. Tapi cuma dalam waktu 3 tahun, dia jadi duta mahasiswa yang diundang ke Dubai dan Jerman.
Bayangin, dari anak yang nilai bahasa Inggrisnya rendah, jadi perwakilan Indonesia ke luar negeri! Gila ya. Tapi bukan keberuntungan semata. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu: kesadaran untuk memilih realita yang berbeda.
Aku jadi keinget diriku sendiri.
Di usia 55 tahun ini, banyak orang mungkin berpikir waktunya udah lewat buat berubah drastis. Tapi kalau kata Kintari,
Aku jadi keinget diriku sendiri.
Di usia 55 tahun ini, banyak orang mungkin berpikir waktunya udah lewat buat berubah drastis. Tapi kalau kata Kintari,
"Hidup itu bukan jalan lurus. Hidup itu seperti lapisan-lapisan realita yang semuanya tersedia dalam satu waktu. Dan kita bebas memilih mau masuk ke lapisan yang mana."
Kita bisa pilih jadi siapa pun—asal kita tulus dan berani.Tulus artinya kita benar-benar ingin berubah karena panggilan jiwa, bukan karena gengsi atau iri. Dan berani, ya berarti siap menghadapi rasa nggak nyaman, siap ditertawakan, siap gagal. Tapi tetap maju. Karena di situlah pintu takdir baru terbuka.
Ganti rute jalan pas pagi jalan kaki. Menyisir rambut ke arah berlawanan. Bikin jurnal rasa syukur. Kadang aku berdiri di depan cermin, tersenyum ke diri sendiri, dan bilang: “Tanti, makasih ya udah sejauh ini. Kamu hebat.”
Konyol? Mungkin.
Konyol? Mungkin.
Tapi ternyata itu bagian dari menyambung lagi hubungan dengan inner child—bagian dari diriku yang dulu terluka dan merasa tak berharga. Kita harus ajak dia pulang, peluk dia, dan bilang, “Nggak apa-apa, sekarang aku di sini.”
Dan satu hal lagi yang aku suka banget: ikuti kebahagiaan tertinggimu.
Dan satu hal lagi yang aku suka banget: ikuti kebahagiaan tertinggimu.
Kadang kita terlalu fokus pada apa yang masuk akal, padahal hati kita punya kompas sendiri. Kalau bikin kue bikin kamu bahagia, ya lakukan itu. Kalau kamu suka melukis, nyanyi, atau ngurus tanaman—siapa tahu itu blueprint jiwamu.
Aku mulai menggambar lagi. Padahal dulu kupikir udah basi. Tapi ternyata, lewat menggambar, aku bisa nangis, ketawa, ngobrol sama Tuhan. Katanya seni itu cara lembut untuk menggeser kesadaran, bikin kita masuk ke kondisi hipnotik yang menyembuhkan.
Dan tahu nggak? Di akhir video, Kintari cerita soal workshop yang ngajak kita melukis, bermusik, dan menyambung lagi ke kebijaksanaan batin. Aku nggak tahu apakah aku akan ikut workshop itu, tapi aku tahu satu hal:
Aku bisa memilih untuk hidup berbeda. Mulai hari ini. Mulai dari sini.
Karena seperti yang dikatakan di video itu, “Kamu nggak harus menunggu jadi ‘siapa-siapa’ dulu untuk melakukan quantum leap. Kamu hanya perlu jadi dirimu yang paling tulus dan berani.”
Sebab aku juga percaya, self-love itu bukan soal spa atau liburan mahal. Tapi soal sadar bahwa diriku yang sekarang—dengan rambut beruban, tubuh nggak seenteng dulu, dan mimpi-mimpi kecil yang masih tersisa—tetap istimewa. Dan cara terbaik untuk mencintai diri adalah dengan memprioritaskan yang penting: diri sendiri dan proses yang sedang aku jalani.
Aku ingat saat jadi ilustrator freelance beberapa waktu lalu, meski kerjaannya terlihat remeh di mata orang—“ah cuma gambar-gambar”—tapi aku kerjain dengan sepenuh hati.
Aku bangun lebih pagi, nyiapin teh sendiri, nyalain musik instrumental, lalu mulai menggambar. Totalitas, walau kecil. Fokus, walau nggak glamor. Tapi itu bikin aku merasa hidup. Karena menurutku, self-love adalah ketika kita berani menempatkan diri kita di panggung utama, bukan sebagai figuran dalam hidup orang lain.
Kini aku belajar menikmati hal-hal kecil yang bikin nyaman tapi berdampak baik. Belajar pelan-pelan tentang digital, nge-blog lagi, berkebun, dan ngobrol dengan anak sambil masak. Ternyata itu bukan sekadar kegiatan, tapi bentuk kasih sayang buat diriku sendiri.
Dan kamu pun bisa melakukan itu. Karena kita semua, pada dasarnya, punya potensi lompatan realita—asal kita berani bilang ke diri sendiri, “Aku pantas bahagia. Aku layak berhasil. Dan aku nggak harus jadi orang lain untuk mewujudkannya.”
Dan kamu pun bisa melakukan itu. Karena kita semua, pada dasarnya, punya potensi lompatan realita—asal kita berani bilang ke diri sendiri, “Aku pantas bahagia. Aku layak berhasil. Dan aku nggak harus jadi orang lain untuk mewujudkannya.”
Dan buat aku, itu sudah cukup.
Kalau kamu, lompatan realita apa yang lagi kamu siapkan?
Yuk cerita di kolom komentar. Siapa tahu kita bisa sama-sama melompat.
Pilihan hidup memang gak selalu mudah, apalagi kalau melawan ekspektasi. Tapi tulisan Mba Tanti ini bikin aku percaya, setiap lompatan punya makna. Kadang perlu berani untuk bilang: “ini hidupku, ini jalanku.” Terima kasih udah berbagi dari hati.
BalasHapusAiiie aku juga kagum sama Aie yang keren, moderen dan punya prinsip hidup yang kuat!
HapusRefleksinya dalam banget teh, serasa dibawa dan dituntun ke dunia alam bawah sadar, lalu mengikuti kemana seseorang itu pergi, tanpa menolak, semua lika-liku dijalankan dengan penuh kesadaran, jika ini bukan hambatan, juga bukan tantangan, tapi tempaan agar kita semakin kuat. dan Quotenya itu kena banget sih teh, "Hidup itu bukan jalan lurus. Hidup itu seperti lapisan-lapisan realita yang semuanya tersedia dalam satu waktu. Dan kita bebas memilih mau masuk ke lapisan yang mana."
BalasHapusSaya jadi inget, quote yang bisa menguatkan saya pada saat kuliah dulu,"melakukan tradisi-tradisi kecil, untuk melakukan lompatan yang besar",
Sehabis baca tulisan mendalam ini jadi ingat ayat Quran yang maknanya kurang lebih bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu juga tidak memiliki keinginan untuk mengubahnya sendiri.
BalasHapusJadi sejauh apapun lompatan realita yang kita buat, insyaAllah akan ada dampak yang menyertainya, ya
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTulisan yang kontemplatif sekali. Akhir-akhir ini, aku juga bingung sama jalan apa yang aku pilih. Pada akhirnya, kadang jalan yang nggak kita duga hanya sesimple dari batin kita. Dan saya pernah nonton sebuah reel tentang mahasiswi Indo yang lagi kuliah di Inggris, dia bertanya pada profesor yang jadi dosennya, profesor itu bilang "Manusia memang pada dasarnya nggak benar-benar mengenal diri mereka". Jadi, kesimpulannya, memang akan ada banyak jalan yang nggak benar-benar kita duga yang ternyata bakal cocok buat kita, karena kita sendiri juga masih eksplor siapa diri kita. So, selagi kita masih diberi umur yang panjang, nggak ada salahnya kita banyak mencoba hal-hal baru di dunia ini.
BalasHapusSetuju banget bahwa self-love itu tidak perlu mahal dan jauh. Saat ini masih nyaman dengan kegiatan membaca, sih. Self-love yang lain seperti olahraga yang saya masih harus disemangati terus. Soalnya ini investasi jangka panjang juga. Semoga di usia mendekati 50 tahun ini, makin sehat juga gaya hidup.
BalasHapusKa Tantii.. aku suka banget sama artikel deep meaning bginii..
BalasHapusKarena aku skarang juga sendirian di rumah ((suami kerja, anak boarding)) - jadi aku lebih fokus sama kebahagiaan diri sendiri.
Mungkin minusnya memang jadi gak punya temen yaa..
Plusnya, hal-hal yang dulu gak bisa aku lakukan dengan alasan "Ga bisa ninggal anak", kini aku bisa lebih leluasa.
Seneng bangetnya adalah aku lebih fokus ke hak belajar aku.
Lebih banyak berinteraksi dengan dunia nyata.
Bener-bener lompatan realita yang luar biasa!